Bagaimana bisa bahagia secara konsisten?

“Apa sih pak, hal paling pokok yang bisa membuat kita terus menerus bahagia, sehingga kita bisa menarik kebahagiaan-kebahagiaan hebat lainnya?” demikian tanya seorang sahabat via bbm tadi pagi (26 April 2013, 07.12 wib). Jujur, pertanyaan ini sempat membuat saya berpikir keras, sehingga tak langsung dapat saya jawab.

Sambil menyuapi bayi musang yang baru saja saya adopsi, pikiran dan perasaan saya melanglang pada keadaan saya beberapa tahun yang lalu. Sekedar bertanya pada diri sendiri, “Apa yang paling berat dan sulit untuk saya merasa bahagia saat itu?”

Jawaban dari pertanyaan itu menjadi penting, setidaknya dapat membantu menjawab pertanyaan sahabat saya tersebut di atas.

Segera saya menyeleksi beberapa persoalan tentang bagaimana dulu saya merasa sulit untuk dapat merasa bahagia. Tentu saja saya menemukan banyak hal, misalnya, saya menginginkan hidup berjalan seperti apa yang saya mau, menghendaki orang-orang di sekitar saya, mestinya bersikap seperti yang saya mau, saya berharap orang lain mau berpikir seperti cara saya berpikir.

Saya mengakui, bahwa saya sulit untuk bisa merasa bahagia, karena saya memiliki aturan mental kebahagiaan yang menghambat tercapainya kebahagiaan itu sendiri. Contoh aturan mental yang sering kita dengar adalah :

“Saya akan bahagia, jika orang tua saya bahagia atau jika saya bisa memberangkatkan mereka ke tanah suci.”

Dan masih ada banyak contoh lain aturan mental kebahagiaan saya dan juga kebanyakan orang, yang justeru menghalangi kita untuk dapat bahagia secara konsisten di setiap saat. Selain memiliki aturan mental yang menghambat tercapainya kebahagiaan, saya juga ternyata sangat sulit menikmati rasa bahagia, akibat terlalu banyak menyimpan keinginan yang ingin saya raih. Padahal sekian banyak nikmat yang sudah Tuhan berikan, belum sempat saya syukuri dengan sebenar-benarnya syukur. Dan yang lebih menyedihkan, saya ternyata sulit untuk dapat ikut berbahagia atas kebahagiaan yang orang lain rasakan. Selalu saja ada kesedihan dan rasa iri, kenapa hal itu tidak terjadi pada diri saya? Demikian pikiran dan perasaan saya sering bertanya saat itu.

Eureka, demikian bathin saya berteriak, seraya memberi sesendok susu dan sedikit vitamin untuk bayi musang saya dan kemudian meletakannya ke dalam kandang warna abu-abu. Saya segera meraih bb dan mengetikkan beberapa baris kalimat untuk membalas bbm sahabat saya itu.

“Cobalah untuk belajar dan berusaha bahagia ketika orang lain tengah berbahagia. Bahagialah dengan tulus, dalam dan lurus. Seperti kamu merasa bahagia ketika kamu sendiri mendapatkan sesuatu yang membahagiakan. Bahkan ketika kebahagiaan itu dirasakan oleh orang yang tidak kamu suka sekalipun. Lalu bersyukurlah. Saya yakin, kamu akan mudah untuk terus bahagia.” Demikian balasan saya atas pertanyaan sahabat saya tersebut.

Kemudian setelah membalas bbm sahabat saya itu, sayapun langsung memasuki kondisi ikut bahagia, untuk seseorang yang hari ini tengah bahagia, walaupun beberapa waktu yang lalu, ia telah melukai perasaan saya, lalu saya berdoa untuknya,”tetapkanlah ia dalam kebahagiaanMu, Yaa Allah, dan ijinkan pula ia untuk tidak menyukai hamba dengan hasud dan fitnahnya. Karena mungkin itu adalah kebahagiaanya pula.”


Kebahagiaan hakiki adalah ketika kehadiran dan karya kita dapat membuat orang lain bahagia.

Saya bahagia Uje meninggal?

Beberapa saat sebelum mem-posting tulisan ini, saya lebih dulu menulis tentang “Apa sih hal pokok yang membuat kita bisa bahagia secara konsisten?” di wall facebook saya dan kemudian menyiarkannya via bbm ke seluruh sahabat.

Ada seorang sahabat kemudian berkomentar, “Saya lagi sedih karena dini hari tadi Uje (Ustadz Jeffry Al Buchory), meninggal, Pak. Jadi saya tidak bisa Bahagia pagi ini.” demikian tuturnya.

“Ups, kalo saya bahagia beliau meninggal…” demikian jawab saya.

Sahabat saya mungkin heran, sehingga ia melanjutkan, “Lho kok, bisa?”

“Kenapa Tidak? Saya bahagia karena satu lagi orang yang dicintaiNya memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Sang Maha Kekasih lebih dulu. Kita tidak pernah tahu, mungkin saja justeru alm. Uje jauh lebih bahagia atas kepergiannya itu.” demikian saya sedikit menjelaskan.

Saya teringat kisah yang disampaikan oleh seorang ustad dalam sebuah pengajian, ketika Rasulullah SAW, hendak di cabut nyawanya oleh sang malaikat maut. Kurang lebih kisahnya seperti ini : Awalnya malaikat sungkan untuk mencabut kekasih Allah ini, namun ketika Rasulullah bertanya, “Siapakah engkau dan apa maksud kedatanganmu?” Sang malaikat menjawab, “Aku diperintah oleh Allah untuk menjemputmu (mencabut nyawamu) wahai Rasul Allah.”

Apa kemudian jawab Rasulullah? “Wahai malaikat Allah, jika demikian maksudnya, kenapa tidak segera engkau tunaikan perintahNya? Dengan senang hati dan ikhlas aku menerima keputusanNya mempertemukan aku dengan Dzat Maha Agung.”

Dari gambaran kisah di atas, jelaslah bahwa Rasulullah-pun ingin segera melepas kerinduannya kepada Sang Khalik. Tempat segala makhluk berpulang. Kekasih Maha Kekasih, Sang Kekasih Sejati hamba-hamba terkasih.

“Tapi bagaimana dengan jamaahnya, Pak? Mereka kan bersedih?”

Lho, ijinkan saja mereka berduka untuk menampilkan kebahagiaannya. Karena setiap manusia berhak menentukan pilihan dalam bersikap atas segala hal yang Allah gariskan bukan? Bahkan bukan tidak mungkin ada sebagian lagi manusia yang ‘senang’ dengan kepergian Uje, lho? Lantas apa hak kita mengatur dan mengendalikan itu?

Selalu ada warna dari setiap kejadian yang Tuhan selenggarakan di kehidupan kita. Bahkan air matapun bisa saja mewakili tawa bahagia, atau tawa congkak kesenangan dan kegembiraan. Percayalah, hidup adalah sebuah garis, dan kematian adalah sebuah titik penentu, seberapa besar manfaat kita bagi orang banyak. Demikian dengan ustadz Uje, kita yakin bahwa setidaknya beliau telah cukup banyak menebar kebajikan lewat syiar agama dan da’wah sejuknya.

Tugas kita saat ini adalah mendoakan beliau, lalu berdoa untuk diri kita sendiri, semoga ampunan Allah senantiasa tercurah kepada kita semua. Bagaimana? Setuju?

‘Selamat Jalan Ustadz Gaul, setiap amalmu pastilah Allah perhitungkan, dan segala dosa semoga Allah ampuni. Selamat jalan Uje, semoga keridhoanNya senantiasa Allah karuniakan kepadamu…’

***
“Tiap tiap yang bernyawa akan merasakan mati,
dan sesungguhnya hanya pada hari qiyamat sajalah disempurnakan pahalamu.
Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung, kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya” Al Imraan: 185

Tips Bahagia Sepanjang Hari

Di bawah ini saya tuliskan beberapa tips yang sering saya lakukan untuk mengubah mood buruk agar senantiasa kembali gembira, karena untuk menjadi selalu bahagia secara konsisten, dibutuhkan keberanian untuk mengelola pikiran dan perasaan kita sendiri. Bagaimana caranya?

Mudah-mudah tips di bawah ini bermanfaat :

#Tips_1.

Coba deh ucapkan setiap pagi:
Saat saya menyadari bahwa saya tidak selalu mendapatkan apa yang saya inginkan, maka mulai saat ini, saya menyiapkan dan mengijinkan diri untuk selalu mensyukuri apapun yang saya dapatkan.”

#Tips_2.
Perlakukanlah setiap orang yang anda jumpai dengan perlakuan yang juga ingin anda terima dari orang lain. Lalu ucapkanlah terimakasih dengan tulus pada lawan bicaramu setelah anda selesai berbincang-bincang dengannya. Kemudian usahakanlah mentraktir minimal 1 orang yang belum pernah anda traktir.

#Tips_3.

Cobalah untuk melihat sesuatu yang sedap dipandang, nikmati dan syukuri, bahkan hanya untuk sekedar beningnya warna sirup dalam gelas, butir hujan yang jatuh membasahi bumi atau lambaian daun-daun dari tanaman di pekarangan rumah kita. Lihatlah dan nikmati, lalu carilah hal yang bisa anda syukuri dari kegiatan itu.

#Tips_4.
Lakukan kegiatan yang diminta untuk anda lakukan, dengan perasaan gembira, apapun itu, bahkan ketika anda diperintah oleh orang yang tidak anda suka sekalipun. Jika muncul perasaan yang tidak enak karena hal itu, segera sadari dan ucapkanlah secara mental, “Pekerjaan ini kulakukan, karena Tuhan jugalah yang menginginkan hal ini aku kerjakan. Ia hanya tengah menguji kesabaranku.”

#Tips_5.
Mulailah berfokus pada rasa syukur atas apa yang sudah anda peroleh, sehingga tidak terlalu terlena pada sekedar keinginan yang belum anda dapatkan. Caranya, ingat-ingatlah hal kecil yang sudah anda punya lalu syukuri, seperti masih punya sisir, sepatu, lulus sekolah, masih sekolah, masih bangun pagi, masih bisa beranjak dari tempat tidur, punya baju, masih bisa tidur, punya handphone, punya TV, masih bisa baca, dll.

#Tips_6.
Setiap kali anda merasa kecewa atau kesal terhadap seseorang, situasi atau keadaan, segeralah berdoa : “Yaa Allah, bersihkan hatiku dari kedengkian dan kebencian sehalus apapun, berilah kemampuan padaku untuk melupakan rasa kecewa pada apapun dan siapapun. Ijinkan aku utk mampu melihat segala sesuatu dengan kebahagiaan.”
Lalu berusahalah untuk mengembangkan senyum.

#Tips_7.
Afirmasikan kalimat di bawah ini kapanpun perasaan gundah datang atas sikap orang lain terhadap diri anda:

“Saya menutup pikiran dan hati dari prasangka dan energi negatif. Saya terus belajar memaklumi sikap orang lain, namun berhenti berharap untuk dimaklumi, karena saya sadar, saya tidak bisa memaksa orang untuk berpikir dan bersikap sama seperti saya.”
Lalu berusahalah untuk mengembangkan senyum.

#Tips_8.
Ketika Anda mulai berpikir bahwa Anda tidak bahagia dengan hidup Anda, selalulah berpikir bahwa ada seseorang yang bahagia atas kehadiran Anda. Perhatikan sekelilinga anda, bukankah kebahagiaan sesungguhnya adalah membuat orang lain bahagia?

“Kebahagiaan tidak akan pernah datang kepada mereka yang gagal menghargai atau tidak mampu mensyukuri apa-apa yang telah mereka miliki”

#Tips_9.
Berusahalah setiap hari menuliskan kata-kata motivasi atau kalimat inspiratif di media sosial anda, atau sekedar membacanya. Contoh : “Kesulitan sebesar apapun, akan terasa biasa saja bagi orang yang lebih mengutamakan syukur daripada mengeluh. karena, bukanlah kebahagiaan yang membuat kita bersyukur, tapi rasa syukurlah yang membawa kita ke dalam kebahagiaan.”

#Tips_10.

Dengarkan musik atau lagu yang membawa emosi positif atau bernada riang, tontonlah film atau acara TV yang lucu. Berusahalan untuk membuat bahan humor atau lelucon untuk kemudian menceritakannya kepada teman-teman anda. Bisa juga dengan menuliskannya di akun media sosial milik anda.

Demikian 10 tips sederhana menjaga kebahagiaan anda sepanjang hari. Semoga bermanfaat.

 

Asal usul nama Glodok dan Senayan

Tahukah anda  asal usul nama Glodok? Ya, Glodok adalah sebuah nama tempat di Jakarta dan sekarang dikenal sebagai pusat perbelanjaan barang elektronik.

Konon pada sekitar tahun 1670, di daerah itu terdapat penampungan air yang dikucurkan melalui pancuran yang cukup tinggi. Air pancuran itu jatuh menggerojok ke tanah. Nah, karena di daerah itu banyak sekali warga keturunan Tionghoa yang tinggal di sana, sementara mereka kesulitan mengucapkan kata grojok untuk mengilustrasikan suara air pancuran tersebut, maka yang terdengar adalah Glodok.

Namun ada versi lain yang mengatakan bahwa Glodok berasal dari bahasa Sunda, yaitu golodok, yang artinya tangga di tepi sungai. Tangga ini sengaja dibuat di tepi sungai sebagai tempat untuk mandi dan mencuci warga sekitar kali Ciliwung di daerah ini. Nah, saking banyaknya golodok di sana, sehingga menjadi ciri khusus daerah tersebut dan orang-orang lebih mudah mengucapkan golodok dengan glodok saja.

Selain itu, anda juga sudah pasti pernah mendengar daerah Senayan. Ya, sebuah nama tempat dimana kita mengenalnya sebagai tempat berdirinya Stadion Utama Senayan, yang sekarang kita sebut sebagai Gelora Bung Karno.

Senayan adalah sebuah tempat yang begitu penting di Ibu kota, selain GBK (Gelora Bung Karno) di daerah ini juga terdapat Gedung DPR/MPR dan TVRI. Tapi tahukah anda bahwa menurut catatan, senayan dulunya bernama Wangsanayan, yang berarti kediaman atau tanah milik seseorang yang bernama Wangsanaya. Konon Wangsanaya ini adalah seorang tentara berpangkat Letnan dan berasal dari daerah Bali yang tinggal di daerah itu sekitar tahun 1680.

Bagaimana? Cukup menambah pengetahuan anda bukan? Jika anda ingin lebih dalam mengetahui asal usul nama tempat di kota Jakarta, anda bisa membacanya di buku tulisan Rachmat Ruchiat terbitan Masup Jakarta dengan judul ‘Asal Usul Nama Tempat di Jakarta’.

Salam Pengetahuan.

Sering ikut seminar tapi belum berhasil juga

Salah seorang teman saya yang rajin mengikuti seminar dan training motivasi pernah menyampaikan, “Saya itu udah sering banget ikut seminar dan membaca buku motivasi tapi kok belum ada hasilnya, ya?

Pertanyaan seperti ini juga pernah saya ajukan saat pertama kali saya mulai berburu pengetahuan tentang pengembangan dan pemberdayaan diri. Namun fokus saya bukan pada apa yang salah dengan seminar dan buku-buku yang saya baca, melainkan pada apa yang salah dengan diri saya, sehingga pengetahuan pemberdayaan diri itu tidak ampuh mengubah diri saya ke arah yang lebih baik.

Pencarian demi pencarian dan perenungan demi perenungan saya lakukan, saya memilih untuk fokus dan tetap teguh melatih diri dengan mengikuti semua panduan yang pernah saya dapatkan dalam seminar dan buku-buku motivasi. Betapapun orang-orang di sekitar saya sering mempengaruhi saya dengan bahasa-bahasa yang melemahkan, skeptis dan apatis.

Untungnya saya tidak memiliki paradigma berpikir seperti mereka yang memang pada dasarnya lebih suka melihat segala sesuatu dari kacamata sempit dan negatif. Saya beruntung dikaruniai cara berpikir yang terbuka, sebab jika ada orang lain bisa dan berhasil, mestinya saya pun memiliki hak yang sama, bukan?

Jadi, menjawab pertanyaan di atas, saya hanya ingin memberikan ilustrasi sebagai berikut :

Jika kita anggap level emosi keberhasilan itu adalah –10 s.d +10, di mana angka +10 adalah puncak hasil yang kita inginkan. Sekarang, cobalah lihat dengan jujur, sudah berada di manakah posisi kita? Jika sudah berada pada posisi +3 atau +5 misalnya, maka tentu level +10 sudah dekat dan mungkin akan dengan mudah kita raih.

Persoalannya, bagaimana jika kita masih berada di level -3 atau bahkan -7? Berapa level lagikah yang harus kita capai untuk mencapai level 0 saja dulu, sebelum mencapai level +10. Lalu apa yang harus dilakukan untuk bisa lebih cepat meraih hasil yang kita inginkan?

Langkah paling bijaksana untuk menjawab itu adalah, mari kita evaluasi diri kita dengan jujur, seberapa besar kita sudah mengambil langkah untuk memperbaiki diri kita? Seberapa lebar kita membuka diri untuk meningkatkan dan memberdayakan kualitas hidup kita? Seberapa hebat kita mampu mengendalikan diri kita, sehingga kita tidak mudah terjebak dalam pusaran energi dan emosi negatif? Pengetahuan seperti apa yang sudah kita miliki untuk mengembangkan potensi dan sumber daya diri kita? Buku apa yang kita baca? Tontonan televisi seperti apa yang sering kita lihat? Berita apa yang kita sukai? Program seminar atau training seperti apa yang sudah kita ikuti? Cobalah untuk masuk ke dalam diri kita lebih dalam dan tanyakan pada diri kita sendiri.

Masihkah kita menyimpan perasaan benci dan dendam? Masih sering marahkah untuk persoalan sepele? Masih suka iri atau dengki dengan keberhasilan orang lain? Mudah tersinggung, sering kecewa, sedih, cemburu, sakit hati, senang membicarakan keburukkan orang lain?

Apa pengaruhnya itu semua dalam keberhasilan kita?  Sederhana saja, jika emosi-emosi negatif itu masih menjadi bagian diri kita, maka kita akan sulit merasakan energi bahagia. Padahal energi bahagia adalah energi terkuat untuk mendatangkan kebahagiaan lain yang telah Allah siapkan untuk kita. Karena energi bahagia merupakan buah dari rasa syukur, dan setiap manusia yang hidupnya dipenuhi rasa syukur, Allah berjanji untuk menambah kenikmatan lain bagi hidupnya.

Sebagai manusia tentu saja kita sering merasa kesulitan dalam mempertahankan keadaan emosi positif kita, sehingga kita lebih sering turun level, setiap kali kita sudah bersusah payah meraihnya. Langkah-langkah apa yang mesti kita persiapkan dan kita latih untuk dapat mencapai level yang lebih baik? Bagaimana merawatnya? Seperti apa seharusnya kita menjaga kestabilan emosi kita, dan lain sebagainya.

Jika level emosi bahagia kita terus merangkak naik, walaupun perlahan-lahan, pastilah puncak perubahan akan tetap kita raih. Apapun yang kita usahakan dengan baik dan terus meningkat ke arah yang lebih baik, maka puncak keberhasilan, hanya tinggal menunggu waktu untuk kita capai.

Tugas kita adalah menyiapkan dan memantaskan diri kita untuk mendapatkan karunia keberhasilan dari Sang Maha Pemilik Kehidupan. “Orang sukses adalah mereka yang hari ini lebih baik dari kemarin, dan kemudian berusaha membuat hari esok lebih baik dari hari ini.”

Ingatlah, bahwa apapun yang kita lakukan di hari ini akan mempengaruhi kualitas kehidupan kita di hari esok, semoga kisah berikut dapat memberi inspirasi :

Seorang pengusaha yang tengah istirahat makan siang, tergelitik untuk menguping percakapan telepon dari seorang anak laki-laki berusia belasan tahun yang duduk tidak jauh darinya.

“Selamat sore, Pak. Bisakah saya mendapat pekerjaan mengecat rumah Bapak?” tanya anak itu.

“Oh, maaf nak, bapak sudah punya orang untuk mengerjakannya,“ demikian sambut orang di seberang telepon.

“Jika bapak menggunakan tenaga saya, bapak boleh membayar saya, setengah dari upah orang itu,” kata anak itu lagi.

“Wah, nak. Bapak sudah sangat puas dengan hasil kerja orang itu. Maaf, ya nak!” dengan sabar si bapak menjawab.

“Saya juga akan membersihkan halaman depan rumah bapak dan memotong rumputnya, saya jamin rumah bapak akan terlihat jauh lebih indah dan bersih,” si  anak mencoba memaksa.

“Terima kasih, Nak. Tapi bapak tidak bisa!” jawab si bapak lagi.

“Baiklah jika demikian, pak. Terima kasih,” akhirnya kata si anak laki–laki itu dengan seulas senyum di wajahnya.

Pengusaha yang sejak tadi melihat dan menguping percakapan itu langsung menyapa si anak dengan ramah, “Nak, aku suka sekali dengan sikap dan semangat positifmu. Bagaimana jika aku menawarkan pekerjaan padamu, untuk mengecat rumahku esok hari?”

“Oh, tidak pak, terima kasih. Besok, kebetulan saya harus menjenguk ibu saya,” jawab si anak.

“Lho, tapi ketika kamu bercakap-cakap di telepon tadi, sepertinya kamu sangat menginginkan pekerjaan itu?” si pengusaha mulai heran.

“Oh, bukan begitu, Pak. Saya hanya ingin tahu, apakah pekerjaan saya sudah cukup baik dan bagus. Sayalah orang yang bekerja mengecat rumah untuk Bapak yang baru saja saya hubungi lewat telepon,” kata anak laki-laki itu sambil tersenyum lebar. 

Sahabatku, seperti anak laki-laki dalam cerita tadi, selayaknya kita juga perlu mengevaluasi apa-apa yang sudah kita lakukan dalam hidup ini, lihatlah dengan jernih dan obyektif, apakah yang sudah kita lakukan selama ini untuk kehidupan? Apakah yang kita perbuat sudah cukup baik? Tidak menyakiti perasaan orang lain? Sudah ramahkah kita pada orang-orang yang kita jumpai selama ini? Bagaimana sikap kita terhadap orang yang telah banyak membantu kita? Bagaimana dengan sikap mental kita, pikiran, emosi dan perasaan kita, bisakah kita mengendalikannya? Atau justru kita malah menjadi budak pikiran dan perasaan kita?

Untuk sukses, kebahagiaan anda dalam melakukan proses pencapaian, harus lebih besar daripada kekhawatiran anda terhadap kegagalan ~ R.Rivano

I love living life. I am happy

Sahabat Indonesia, ijinkan saya bercerita sedikit mengenai seorang laki-laki cerdas dan tampan, bersuara indah dan memiliki banyak bakat. Dia adalah seorang inspirator dan pembicara motivasi. Upss, jangan fitnah dong! Bukan, ini bukan saya. Ini adalah kisah seorang pria Serbia yang lahir 30 tahun lalu di Melbourne, Australia tepatnya pada tanggal 4 Desember 1982, orang tuanya memberi nama Nick Vujicic.

Nick Vujicic2

Nick dikenal sebagai orang yang hebat dalam bermain golf, berselancar dan berenang. Dia juga seorang motivator yang telah mengunjungi lebih dari 24 negara termasuk Indonesia untuk berbicara dan memberi motivasi pada lebih 2 juta pemuda di negara-negara yang ia kunjungi. Pada usia 21 tahun ia lulus kuliah sebagai seorang Sarjana Ekonomi bidang Akuntansi dan Perencana Keuangan. Pada usia 17 tahun ia mendirikan lembaga non profit ‘Life Without Limbs’,  (Hidup tanpa anggota tubuh).

Ya, Nick Vujicic adalah seorang Inspirational Speaker kelas dunia yang tidak memiliki lengan dan kaki sejak lahir, ia terserang penyakit langka Tetra-Amelia. Namun hidupnya justru ia abdikan untuk memotivasi orang-orang normal, agar tidak pernah patah semangat dalam menghadapi cobaan hidup.

Dalam sebuah kesempatan saat mengisi seminar motivasi di depan ribuan pelajar, Nick dengan asyiknya bermain drum techno dengan menggunakan telapak kaki kecil di dekat pinggul kirinya yang dengan bangga ia sebut sebagai “my chiken drumstick”.

Setelah selesai bermain drum, tiba-tiba ia menjatuhkan dirinya di atas meja tempatnya berdiri. Kemudian ia bertingkah kocak, sehingga semua peserta yang hadir tertawa terbahak-bahak melihat hal itu. Namun sesaat kemudian, kalimat-kalimat inspirasinya membuat semua peserta tertegun, bahkan sebagian menangis saat melihat usaha Nick untuk bangun dari jatuhnya.

Untuk lebih baiknya, silakan tonton videonya dengan meg-klik gambar Nick Vujicic di atas.

Jika Nick Vujicic, seorang manusia yang tidak memiliki kedua lengan dan kaki itu bisa mensyukuri hidupnya. Bahkan menjadi inspirasi bagi banyak orang di dunia, pantang menyerah dan mencintai kehidupannya dengan rasa bahagia. Lalu kenapa kita tidak?

Ayo, bersyukurlah bahwa kita ternyata masih jauh lebih baik.

“Terimakasih Yaa Allah, terima kasih atas segala ni’mat yang telah Engkau karuniakan kepada hamba. Jadikan hamba orang yang mampu bersyukur di setiap waktu-Mu.”

Sahabatku, mari bangkitkan harimau tidur di dalam diri kita. Lalu galilah potensi terbaik yang kita miliki, kemudian hiduplah dengan penuh kebahagiaan menatap masa depan. Penuhi jiwa dengan gairah dan antusias yang membara untuk menyambut keberhasilan hidup yang gemilang.

Percayalah, Allah menginginkan kita menjadi manusia yang memiliki makna bagi kehidupan. Tinggalkan sekarang keluh kesah itu. Berhentilah membicarakan keburukan orang lain, bersemangatlah memperbaiki diri sendiri.

Sukses dan bahagialah mensyukuri karunia hari yang selalu Tuhan anugerahkan kepada kita. —

Sekarang saya ingin anda memejamkan mata dan memvisualisasikan diri anda, adalah sebuah magnet kuat yang dapat menarik segala hal baik dan positif ke dalam diri anda. Bayangkan saja, gunakan imajinasi bahwa anda tengah menarik peluang, keadaan, situasi, orang-orang, sumber daya, rumah, mobil, pekerjaan, pasangan hidup, kesehatan, uang, anak-anak yang baik, pasangan hidup yang setia dan menyayangi anda. Silakan tarik apapun yang menurut anda baik dan positif, ke dalam hidup anda.

Ayo, lakukan beberapa menit dan saat membuka mata nanti, ucapkanlah syukur dan afimasi, “semua ini terjadi padaku”

Silakan sekarang pejamkan mata anda…mulai…

Jika saya gagal, saya berusaha untuk mencoba lagi, dan lagi, dan lagi! ~ Nick Vujicic

Membuat Keputusan Sukses Bahagia

‘Saya ingin setiap hari bahagia, Pak. Tapi kenapa sulit ya?’

Pertanyaan saya, “apakah anda menginginkan? Atau anda memutuskan?”

Saran saya, buatlah keputusan untuk bahagia setiap hari. Ya, keputusan! Putuskan sekarang untuk bahagia setiap hari.

Karena kebanyakan orang sebenarnya hanya menginginkan ‘sesuatu’. Bukan memutuskan untuk mendapatkan ‘sesuatu’. Sekarang, ya sekarang. Sekali lagi, sekarang! Buatlah keputusan untuk mendapatkan apa yang anda inginkan. Buatlah keputusan untuk ‘Bahagia’ secara konsisten.’

Lalu jadikan keputusan anda sebagai sebuah ‘keharusan’, demikian saran Anthony Robbins, seorang Motivator No.1 Dunia. Karena jika sebuah keputusan menjadi sebuah keharusan utk diraih, ia tidak lagi hanya sekedar sebuah keinginan, dan dengan demikian, energi dan antusias anda pasti akan mengatur strategi untuk membawa anda mencapai dan mendapatkan apa yang anda inginkan.

‘Apa yang bapak bisa sarankan untuk saya, agar saya bisa mencapai apa yg saya inginkan. Bisa bapak beri contoh cara bapak memutuskan apa yg bapak inginkan?’ demikian tanya salah satu peserta seminar saya beberapa waktu yg lalu. —

Baiklah, saya coba berbagi resep bagaimana dulu saya membuat keputusan yang akhirnya mengubah hidup saya.

Sejak tahun 2002, setiap bangun dari tidur pagi hari, saya selalu mengucap syukur dan mengatakan pada diri saya sendiri, “Ini adalah hari yang hebat, saya akan menjalaninya dengan bahagia, dan kebahagiaan saya hari ini menarik apapun yang dapat mengarahkan saya pada sesuatu yang saya ingin dapatkan, dan mendapatkan apa yang saya inginkan.”

Setelah itu, saya menulis di buku khusus yang memang saya peruntukkan untuk menulis afirmasi harian saya, saya menuliskan : (ini contoh saat saya memutuskan untuk menjadi pembicara publik)

‘Saya berkeinginan kuat untuk menjadi seorang pembicara publik, dan saya memutuskan bahwa menjadi seorang pembicara publik adalah sebuah keharusan. Saya mengarahkan semua potensi saya untuk mewujudkannya. Insya Allah pasti!’

Sejenak saya fokus semata hanya kepada Allah SWT, berdo’a untuk mendapat kemudahan meraih keinginan saya itu. Karena saya percaya, pada akhirnya keputusan yang terbaik untuk saya selalu berada pada kekuasaanNya, sehingga saya merasa perlu untuk berserah diri. Karena saya manusia biasa, maka tentu saja saya khawatir, jika dipaksakan untuk terwujud dan ternyata tidak baik untuk saya, maka saya tidak akan mendapatkan kebahagiaan dari apa yang ingin saya peroleh itu. Sekali lagi, keputusan Tuhan pastilah yang terbaik untuk kita. Namun keyakinan bahwa setiap do’a pasti dikabulkan, haruslah selalu menjadi bagian yang perlu ada dalam pikiran dan perasaan kita.

Pada malam hari sebelum tidur, saya selalu melakukan visualisasi syukur atas apa yang sudah saya peroleh. Karena saya memiliki keyakinan bahwa setiap hal yang saya syukuri, akan membuat saya mampu menarik hal-hal baru yang bisa saya syukuri lagi. Bukankah demikian pula janji Tuhan?

Bagaimana saya melakukan visualiasi syukur?

Sederhana saja, saya hanya duduk sejenak dengan nyaman, memejamkan mata dengan rileks dan tenang, kemudian saya membiarkan pikiran saya memunculkan gambar atas hal-hal yang sudah saya dapatkan. Misalnya, muncul gambaran anak-anak saya, handphone, istri, sepeda motor, mobil, kipas angin, baju, binatang piaraan, kaus kaki, sisir, handicam dll.

Pokoknya apapun yang sudah saya peroleh dan saya nikmati, baik yang kecil maupun yang besar, yang berharga maupun tidak. Dalam proses ini, setiap beberapa kali, secara mental saya mengucapkan, “Terimakasih atas karuniaMu ini Yaa, Allah…” demikian kurang lebih saya melakukannya selama 10 menit.

Setelah selesai dan sebelum berangkat tidur, saya mengkhususkan diri untuk berdoa, “Yaa Allah, rezekiMu berlimpah ruah pada semesta yang Kau ciptakan, tapi aku tak mampu melihatnya, kecuali Engkau menuntunku. Kuijinkan diriku menarik rezeki itu dengan ijinMu, aku menyiapkan diriku menerima energi yang mengarahkan aku meraih apa yang aku inginkan, jika itu baik untukku…”

Demikian hal tersebut saya lakukan sampai saat ini, namun tentu saja keputusan dan hal yang saya inginkan mengalami perubahan seiring dengan waktu dan atau setelah keinginan yang saya putuskan untuk saya dapatkan itu terwujud. Seperti rumah, mobil, liburan ke sebuah tempat, menjadi pimpinan perusahaan, mengisi seminar/pelatihan di perusahaan tertentu, dll.

Dan yang paling penting adalah saya melakukannya secara konsisten dan terus menerus tanpa putus. Karena saya tidak ingin hidup saya biasa-biasa saja. Saya ingin hidup dengan luar biasa.

Sekarang bagaimana dengan anda? Saya harap, andapun memiliki keinginan yang sama dengan saya. Keinginan untuk hidup lebih baik, lebih bahagia, lebih bermakna dan lebih bermanfaat.

***

Bersyukur hakikatnya adalah memberi
dan memberi pada hakikatnya adalah menerima.