Bagaimana bisa bahagia secara konsisten?

“Apa sih pak, hal paling pokok yang bisa membuat kita terus menerus bahagia, sehingga kita bisa menarik kebahagiaan-kebahagiaan hebat lainnya?” demikian tanya seorang sahabat via bbm tadi pagi (26 April 2013, 07.12 wib). Jujur, pertanyaan ini sempat membuat saya berpikir keras, sehingga tak langsung dapat saya jawab.

Sambil menyuapi bayi musang yang baru saja saya adopsi, pikiran dan perasaan saya melanglang pada keadaan saya beberapa tahun yang lalu. Sekedar bertanya pada diri sendiri, “Apa yang paling berat dan sulit untuk saya merasa bahagia saat itu?”

Jawaban dari pertanyaan itu menjadi penting, setidaknya dapat membantu menjawab pertanyaan sahabat saya tersebut di atas.

Segera saya menyeleksi beberapa persoalan tentang bagaimana dulu saya merasa sulit untuk dapat merasa bahagia. Tentu saja saya menemukan banyak hal, misalnya, saya menginginkan hidup berjalan seperti apa yang saya mau, menghendaki orang-orang di sekitar saya, mestinya bersikap seperti yang saya mau, saya berharap orang lain mau berpikir seperti cara saya berpikir.

Saya mengakui, bahwa saya sulit untuk bisa merasa bahagia, karena saya memiliki aturan mental kebahagiaan yang menghambat tercapainya kebahagiaan itu sendiri. Contoh aturan mental yang sering kita dengar adalah :

“Saya akan bahagia, jika orang tua saya bahagia atau jika saya bisa memberangkatkan mereka ke tanah suci.”

Dan masih ada banyak contoh lain aturan mental kebahagiaan saya dan juga kebanyakan orang, yang justeru menghalangi kita untuk dapat bahagia secara konsisten di setiap saat. Selain memiliki aturan mental yang menghambat tercapainya kebahagiaan, saya juga ternyata sangat sulit menikmati rasa bahagia, akibat terlalu banyak menyimpan keinginan yang ingin saya raih. Padahal sekian banyak nikmat yang sudah Tuhan berikan, belum sempat saya syukuri dengan sebenar-benarnya syukur. Dan yang lebih menyedihkan, saya ternyata sulit untuk dapat ikut berbahagia atas kebahagiaan yang orang lain rasakan. Selalu saja ada kesedihan dan rasa iri, kenapa hal itu tidak terjadi pada diri saya? Demikian pikiran dan perasaan saya sering bertanya saat itu.

Eureka, demikian bathin saya berteriak, seraya memberi sesendok susu dan sedikit vitamin untuk bayi musang saya dan kemudian meletakannya ke dalam kandang warna abu-abu. Saya segera meraih bb dan mengetikkan beberapa baris kalimat untuk membalas bbm sahabat saya itu.

“Cobalah untuk belajar dan berusaha bahagia ketika orang lain tengah berbahagia. Bahagialah dengan tulus, dalam dan lurus. Seperti kamu merasa bahagia ketika kamu sendiri mendapatkan sesuatu yang membahagiakan. Bahkan ketika kebahagiaan itu dirasakan oleh orang yang tidak kamu suka sekalipun. Lalu bersyukurlah. Saya yakin, kamu akan mudah untuk terus bahagia.” Demikian balasan saya atas pertanyaan sahabat saya tersebut.

Kemudian setelah membalas bbm sahabat saya itu, sayapun langsung memasuki kondisi ikut bahagia, untuk seseorang yang hari ini tengah bahagia, walaupun beberapa waktu yang lalu, ia telah melukai perasaan saya, lalu saya berdoa untuknya,”tetapkanlah ia dalam kebahagiaanMu, Yaa Allah, dan ijinkan pula ia untuk tidak menyukai hamba dengan hasud dan fitnahnya. Karena mungkin itu adalah kebahagiaanya pula.”


Kebahagiaan hakiki adalah ketika kehadiran dan karya kita dapat membuat orang lain bahagia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: