Saya bahagia Uje meninggal?

Beberapa saat sebelum mem-posting tulisan ini, saya lebih dulu menulis tentang “Apa sih hal pokok yang membuat kita bisa bahagia secara konsisten?” di wall facebook saya dan kemudian menyiarkannya via bbm ke seluruh sahabat.

Ada seorang sahabat kemudian berkomentar, “Saya lagi sedih karena dini hari tadi Uje (Ustadz Jeffry Al Buchory), meninggal, Pak. Jadi saya tidak bisa Bahagia pagi ini.” demikian tuturnya.

“Ups, kalo saya bahagia beliau meninggal…” demikian jawab saya.

Sahabat saya mungkin heran, sehingga ia melanjutkan, “Lho kok, bisa?”

“Kenapa Tidak? Saya bahagia karena satu lagi orang yang dicintaiNya memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Sang Maha Kekasih lebih dulu. Kita tidak pernah tahu, mungkin saja justeru alm. Uje jauh lebih bahagia atas kepergiannya itu.” demikian saya sedikit menjelaskan.

Saya teringat kisah yang disampaikan oleh seorang ustad dalam sebuah pengajian, ketika Rasulullah SAW, hendak di cabut nyawanya oleh sang malaikat maut. Kurang lebih kisahnya seperti ini : Awalnya malaikat sungkan untuk mencabut kekasih Allah ini, namun ketika Rasulullah bertanya, “Siapakah engkau dan apa maksud kedatanganmu?” Sang malaikat menjawab, “Aku diperintah oleh Allah untuk menjemputmu (mencabut nyawamu) wahai Rasul Allah.”

Apa kemudian jawab Rasulullah? “Wahai malaikat Allah, jika demikian maksudnya, kenapa tidak segera engkau tunaikan perintahNya? Dengan senang hati dan ikhlas aku menerima keputusanNya mempertemukan aku dengan Dzat Maha Agung.”

Dari gambaran kisah di atas, jelaslah bahwa Rasulullah-pun ingin segera melepas kerinduannya kepada Sang Khalik. Tempat segala makhluk berpulang. Kekasih Maha Kekasih, Sang Kekasih Sejati hamba-hamba terkasih.

“Tapi bagaimana dengan jamaahnya, Pak? Mereka kan bersedih?”

Lho, ijinkan saja mereka berduka untuk menampilkan kebahagiaannya. Karena setiap manusia berhak menentukan pilihan dalam bersikap atas segala hal yang Allah gariskan bukan? Bahkan bukan tidak mungkin ada sebagian lagi manusia yang ‘senang’ dengan kepergian Uje, lho? Lantas apa hak kita mengatur dan mengendalikan itu?

Selalu ada warna dari setiap kejadian yang Tuhan selenggarakan di kehidupan kita. Bahkan air matapun bisa saja mewakili tawa bahagia, atau tawa congkak kesenangan dan kegembiraan. Percayalah, hidup adalah sebuah garis, dan kematian adalah sebuah titik penentu, seberapa besar manfaat kita bagi orang banyak. Demikian dengan ustadz Uje, kita yakin bahwa setidaknya beliau telah cukup banyak menebar kebajikan lewat syiar agama dan da’wah sejuknya.

Tugas kita saat ini adalah mendoakan beliau, lalu berdoa untuk diri kita sendiri, semoga ampunan Allah senantiasa tercurah kepada kita semua. Bagaimana? Setuju?

‘Selamat Jalan Ustadz Gaul, setiap amalmu pastilah Allah perhitungkan, dan segala dosa semoga Allah ampuni. Selamat jalan Uje, semoga keridhoanNya senantiasa Allah karuniakan kepadamu…’

***
“Tiap tiap yang bernyawa akan merasakan mati,
dan sesungguhnya hanya pada hari qiyamat sajalah disempurnakan pahalamu.
Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung, kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya” Al Imraan: 185

One thought on “Saya bahagia Uje meninggal?

  1. iyan 8 Juli, 2015 pukul 21:35 Reply

    oke siiip

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: